berita  

Teddy Minahasa Tuduh JPU Menjiplak Sidang Ferdy Sambo untuknya

Teddy Minahasa Tuduh JPU Menjiplak Sidang Ferdy Sambo untuknya
Teddy Minahasa Tuduh JPU Menjiplak Sidang Ferdy Sambo untuknya

RilidigitalPetugas polisi yang di permalukan Teddy Minahasa pada hari Kamis mengkritik jaksa penuntut karena merekomendasikan hukuman mati untuknya hanya karena ia adalah pejabat tertinggi di antara para terdakwa dan karena mengacu pada persidangan pembunuhan sebelumnya terhadap jenderal polisi lainnya Ferdy Sambo.

Jaksa menuntut hukuman maksimal bagi Teddy karena di  duga mencuri 5 kilogram sabu dari loker barang bukti polisi saat menjadi Kapolda Sumbar.

Namun Teddy membantah melakukan kesalahan, dengan alasan bahwa ia terlibat hanya karena ia adalah atasan dari para tergugat dalam kasus tersebut.

Ia menuding mantan anak buah Doddy Prawiranegara menyalahkan di rinya untuk mendapatkan

keringanan hukuman, terinspirasi dari kasus Ferdy yang di vonis mati karena pembunuhan sementara

terpidana pembunuh bayaran, Richard Eliezer, hanya di vonis 18 bulan.

“Doddy Prawiranegara meniru perbuatan Eliezer dengan menyalahkan atasannya, padahal [Doddy] adalah dalangnya,” kata Teddy.

Doddy, mantan Kapolres Bukittinggi di Sumatera Barat, menghadapi hukuman 20 tahun penjara untuk kasus yang sama.

“Tuntutan hukuman mati bagi saya sangat tidak adil dan berat bagi saya karena saya tidak memiliki sabu,

sayaukan bpengedar narkoba, sayua ban pelkanggar berulang,” kata Teddy saat membacakan pembelaya di ann ruang sidang. gedung pengadilan.

Dia membantah telah mengambil keuntungan dari sabu yang di curi atau mengambil bagian dalam

kelompok petugas yang diduga mencuri barang bukti dan menggantinya dengan tawas.

Jaksa telah merekomendasikan hukuman penjara antara 17 dan 20 tahun untuk empat terdakwa

dalam kasus tersebut termasuk tiga polisi dan seorang wanita sipil.

“Pantas saja jaksa membebaskan hukuman maksimal untuk saya — tidak untuk terdakwa lain yang terbukti memiliki sabu, mengambil untung, dan terlibat peredaran narkoba — karena masih mengikuti paradigma massa, ” katanya kepada pengadilan.

“Sebagai Kapolda, saya mampu mengatasi keuangan. Mengapa saya harus mengorbankan 30 tahun karir saya di kepolisian untuk kasus senilai Rp 300 juta?”

Jasa Rilidigital