Rusia Mundur dari Kesepakatan Biji-Bijian Laut Hitam, Joe Biden Geram Khawatir Picu Krisis Pangan Global

Kapal Navi-Star sedang menunggu untuk diperbolehkan berlayar di Pelabuhan Odesa, Ukraina Sumber : AP News

Jakarta – Rusia menarik diri dari pakta perizinan ekspor produk biji-bijian ke pasar dunia. Di mana Rusia menghentikan perannya dalam kesepakatan Laut Hitam sampai jangka waktu tidak terbatas. Menanggapi hal tersebut, Presiden Amerika Serikat, Joe Biden menyebut langkah Rusia sangat keterlaluan dan hal itu akan meningkatkan kelaparan.

Rusia tidak dapat menjamin keselamatan kapal sipi yang bepergian berdasarkan pakta tersebut, karena terdapat penyerangan pada armada Laut Hitamnya. Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, Ukraina menyerang Armada Laut Hitam Rusia di dekat Sevastopol dengan 16 pesawat tak berawak, dan menuduh Angkatan Laut Inggris Khusus telah membantu mengkoordinasikan serangan tersebut.

Langkah Rusia dalam memotong pengiriman biji-bijian utama seperti gandum, jagung, produk bunga matahari, barley, rapeseed, dan kedelai telah memicu kecaman dari Ukraina, Uni Eropa, NATO, dan Amerika Serikat, sementara PBB dan Turki telah menjadi perantara dalam kesepakatan tersebut agar krisis pangan global dapat mereda. Akibat keputusan Rusia, harga gandum Chicago telah melonjak lebih dari 5 persen pada Senin (31/10/2022).

Dikarenakan Rusia dan Ukraina adalah salah satu pengekspor gandum terbesar di dunia. Kegiatan ekspor itu terganggu akibat invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

“(Pasar) menjadi kewalahan pada awal perdagangan hari ini oleh Rusia yang menangguhkan partisipasinya di koridor biji-bijian Laut Hitam selama akhir pekan,” kata Direktur Strategi Pertanian Commonwealth Bank of Australia, Tobin Gorey, dilansir dari Antara News Lebih dari 9,5 juta ton biji-bijian telah diekspor sejak Juli berdasarkan kesepakatan Laut Hitam.

Pusat Koordinasi Gabungan (JCC) yang terdiri dari PBB, Turki, Rusia dan Ukraina telah menyetujui kesepakatan ekspor itu sebelumnya. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky menuduh Rusia ingin meningkatkan krisis pangan, serta menyebutkan data bahwa 218 kapal telah diblokir untuk lewat dan diharuskan menunggu untuk memasuki pelabuhan Ukraina.

Jasa Rilidigital