PSSI Disebut Abaikan Keselamatan Pemain dan Penonton

Rilidigital.comPSSI Disebut Abaikan Keselamatan Pemain dan Penonton Karena Gelar Pertandingan Malam Hari

Pengamat sepak bola Rikky Daulay mengaku khawatir dengan sikap PSSI dan Komite Eksekutif (Panpel) Liga 1 Indonesia yang kembali bermain malam hari.

Bahkan, temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Independen (TGIPF) atas tragedi Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang menjadi salah satu isu utama pertandingan malam itu.

Investigasi TGIPF menemukan bahwa salah satu penyebab ratusan korban dalam

tragedi tersebut adalah karena pertandingan antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di mainkan pada malam hari.

“Kita tahu Tragedi Kanjuruhana terjadi saat pertandingan yang di mainkan pada malam hari. Saya kira sampai kasus Tragedi Kanjuruhana di selesaikan secara hukum,

saran saya agar pertandingan di mainkan pada sore hari.

Untuk menghormati kasus Tragedi Kanjuruhana yaitu tidak, namun di selesaikan secara hukum,” kata mantan pemain Persikota Tangerang.

Daulay mengakui sepak bola Indonesia kini sudah menjadi industri, namun PSSI masih abai atau mengabaikan keselamatan pemain dan penonton sepak bola.

“Menurut saya sepak bola Indonesia harus menjadi industri, tapi harus di ingat bahwa keselamatan

pemain di lapangan dan kepastian nasib pesepakbola harus di dahulukan,” ujarnya.

“Bukan hanya karena mengejar rating TV, tapi dengan mudahnya mengikuti kemauan TV. Kemudian para pemain tidak di pikirkannya,” lanjutnya.

Rikky Daulay melanjutkan, pemilik klub dan PSSI hanya untuk mementingkan keuntungan pribadi tanpa memikirkan nasib para pemain.

PSSI Disebut Abaikan Keselamatan

Padahal, sepak bola sudah menjadi industri dewasa ini, artinya pemilik klub dan

PSSI tidak hanya mengutamakan kepentingannya sendiri, tetapi juga kepentingan para pemainnya.

“Bayangkan, menurut teman saya yang masih di Liga, sekitar dua bulan lalu ketika

Liga di bekukan, gaji mereka dipotong hingga 50 persen, padahal tidak ada pengurangan gaji di kontrak.

gugus kalimat Mereka terpaksa menetap karena takut di pecat dan sulit mencari klub,” ujarnya.

“Jadi kalau PSSI ingin berbisnis sepak bola Indonesia, lindungi dulu pemain dan pelatih sepak bola, bangun infrastruktur fisik dan SDM di level pelatih bukan mengikuti keinginan TV,” jelasnya.

PSSI Disebut Abaikan Keselamatan Pemain dan Penonton Karena Gelar Pertandingan Malam Hari

Daulay juga mencontohkan pemerintah Qatar tidak tertarik menayangkan Piala Dunia FIFA 2022 untuk mencari keuntungan.

Hal itu terlihat dari jadwal Piala Dunia yang semula berlangsung pada Juni-Juli, namun terselenggara pada November-Desember.

“Misalnya, Qatar akan lolos ke Piala Dunia pada November-Desember, sedangkan Piala Dunia biasanya berlangsung pada Juni-Juli.

Jadi PSSI tidak perlu takut dengan stasiun TV karena sepak bola Indonesia sudah memiliki penonton yang banyak,” jelasnya.

Daulay pun meminta pemerintah menegur PSSI yang tetap menggelar replay Liga 1 pada malam hari. Bagi Daulay, jika pertandingan masih di mainkan pada malam hari, sebaiknya pemerintah membekukan

PSSI dan penyelenggara Liga 1 menunjuk partai politik yang di lihat PSSI untuk mengelola liga secara profesional.

“Kalau PSSI masih berani menggugat perintah pemerintah, sebaiknya PSSI di bekukan dulu. Untuk menyelenggarakan liga, pemerintah cukup menunjuk, misalnya Erick Tohir atau EO, yang bisa memimpin liga,” ucapnya.

PSSI di tuding mengabaikan sejumlah rekomendasi dari FIFA dan TGIPF. Surat FIFA tertanggal 5 Oktober 2022 kepada Presiden Jokowi tentang tragedi Kanjuruhan juga menyebutkan pentingnya jam bermain dari segi faktor keselamatan dan keamanan.

Poin keempat dari lima poin yang di serahkan FIFA kepada Presiden Jokowi menyatakan start tidak di anggap terlambat. FIFA telah mengumumkan bahwa kick-off akan berlangsung pada atau sebelum pukul 17:00.

Selain itu, FIFA merekomendasikan agar pertandingan di mainkan pada akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu. FIFA menjelaskan bahwa perencanaan dan waktu pertandingan harus di lakukan sedemikian rupa untuk menghindari waktu pertandingan yang dapat meningkatkan profil risiko pertandingan.

FIFA juga meyakini penjadwalan pertandingan sebelum malam hari akan mempengaruhi mobilitas suporter, sehingga dapat mengurangi beban angkutan umum. Sehingga para suporter bisa masuk transportasi bahkan setelah pertandingan berakhir.

Jasa Rilidigital