berita  

Polisi Menggerebek Klinik Aborsi Ilegal Yang Menggunakan Penyedot Debu Untuk Prosedurnya

Polisi Menggerebek Klinik Aborsi Ilegal Yang Menggunakan Penyedot Debu Untuk Prosedurnya
Polisi Menggerebek Klinik Aborsi Ilegal Yang Menggunakan Penyedot Debu Untuk Prosedurnya

Rilidigital – Polisi menangkap tujuh orang terkait dengan klinik aborsi ilegal di Jakarta Pusat. Empat dari tujuh orang yang di tangkap merupakan pasien klinik tersebut.

Klinik itu hanya bertahan selama sebulan. Polisi mendapat laporan dari warga sekitar yang merasa curiga dengan aktivitas di rumah kontrakan tersebut, dan mereka sering mendengar suara penyedot debu yang keras.

Para tetangga juga melihat banyak perempuan yang berkunjung ke rumah tersebut. Awalnya, mereka mengira rumah itu di maksudkan sebagai rumah aman bagi para pekerja migran. Polisi akhirnya memeriksa rumah tersebut dan membuka klinik aborsi.

Orang yang menggugurkan bayinya tidak memiliki latar belakang medis.

“Pertama SN, perempuan sebagai eksekutor. SN tidak berlatar belakang medis. Dilihat dari KTP-nya, [dia] hanya seorang ibu rumah tangga. SN dibantu oleh NA yang mensosialisasikan [klinik aborsi], mencari [pasien] Termasuk sebagai asisten di rumah ini, juga menjemput pasien,” kata Kapolres Metro Jakarta, Kompol Komarudin, Rabu (28/6/2023).

Tahanan ketiga adalah seorang pengemudi yang bekerja di tempat tersebut.

Komarudin mengatakan SN menggunakan penyedot debu untuk menggugurkan janin. Jenazahnya kemudian di buang ke lemari. Polisi menemukan beberapa obat dan antibiotik yang bisa di beli dengan mudah di apotik.

“Alat yang tersedia hanya penyedot debu. Jadi di sedot dengan penyedot, lalu di buang ke lemari,” ungkap Komarudin.

SN meminta biaya Rp2,5 juta ($166) hingga Rp8 juta ($532) dari kliennya, tergantung pada usia mereka.

Pacar Di tangkap.

Selanjutnya, Komarudin akan terus mengusut kasus ini untuk mencari tahu apakah masih banyak orang yang terlibat.

Kemudian pada hari Jumat, polisi menangkap dua orang lainnya. Salah satunya adalah pacar seorang gadis yang sudah di tangkap. Polisi menjelaskan bahwa memerintahkan seseorang untuk melakukan aborsi juga ilegal di Indonesia. Satu orang lagi adalah pembantu rumah tangga.

Semuanya di duga melanggar tiga undang-undang, termasuk undang-undang aborsi yang menghukum perempuan yang melakukan aborsi. Para wanita itu bisa menghadapi hukuman empat tahun penjara.

Aborsi sebagian besar ilegal di Indonesia. Isu aborsi yang aman telah lama di advokasi oleh aktivis perempuan di negara tersebut, dan kurangnya akses yang aman untuk aborsi telah menyebabkan banyak kasus aborsi yang tidak aman dan ilegal di negara tersebut.

Ady Anugrahadi dan Jonathan Pandapotan Purba berkontribusi dalam laporan ini.

Jasa Rilidigital