berita  

Perlu menjembatani kesenjangan antara literasi keuangan syariah dan konvensional: OJK

Perlu menjembatani kesenjangan antara literasi keuangan syariah dan konvensional: OJK
Perlu menjembatani kesenjangan antara literasi keuangan syariah dan konvensional: OJK

Rilidigital.com , Jakarta – Perlu menjembatani kesenjangan antara literasi keuangan syariah dan konvensional OJK, Kesenjangan antara literasi keuangan syariah dan literasi keuangan konvensional perlu ditangani, kata Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Survei Nasional Literasi dan Inklusi 2022 yang di lakukan OJK mematok tingkat literasi keuangan syariah sebesar 9,14 persen dan tingkat literasi keuangan konvensional sebesar 49,68 persen,

Head of Literacy, Inclusion, and Finance OJK Aman Sentosa menginformasikan.

“Intinya: memang masih ada gap antara literasi keuangan syariah dan literasi keuangan konvensional.

Tapi ini, kita masih perlu bersyukur karena ada beberapa perbaikan, meskipun jauh di bawah tingkat literasi keuangan konvensional, “katanya di Olimpiade Keuangan Syariah Indonesia (ISFO) di sini pada hari Senin.

Kesenjangan antara kedua variabel tersebut perlu di buat lebih kecil melalui penyebaran informasi yang masif di antara masyarakat, termasuk mahasiswa,

tentang keuangan syariah sehingga dapat meningkatkan literasi mereka tentang topik tersebut, tambahnya.

Sentosa menyoroti risiko orang menjadi korban skema penipuan jika mereka tidak mendapat informasi yang baik tentang aspek tersebut

sampai-sampai mereka mungkin kehilangan kepercayaan pada penyedia layanan keuangan secara keseluruhan.

“Literasi keuangan yang rendah menyebabkan ketidakpuasan yang intens dan tingginya tingkat keluhan masyarakat kepada Otoritas Jasa Keuangan tentang layanan keuangan, termasuk laporan tentang investasi palsu, pemberi pinjaman ilegal,” jelasnya.

Perlu menjembatani kesenjangan antara literasi keuangan syariah dan konvensional: OJK

Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Astera Primanto

Bhakti mengatakan orang Indonesia belum memiliki pemahaman yang benar-benar baik tentang keuangan syariah,

meskipun kebutuhan akan pemahaman seperti itu semakin penting setiap tahun.

“Selalu ada dikotomi konvensional versus syariah di kalangan masyarakat. ketika, dalam (kenyataan), ada banyak

kegiatan ekonomi syariah yang di lakukan oleh orang-orang, misalnya, transaksi yang di mulai dengan akad (kontrak Islam),” kata Bhakti.

OJK menyelenggarakan ISFO, kompetisi kuis tentang ekonomi dan keuangan syariah, sebagai bagian dari upaya

untuk meningkatkan literasi keuangan syariah masyarakat, khususnya mahasiswa, tambahnya.

Dia mengatakan dia berharap bahwa tiga pemenang kompetisi akan membantu menyebarkan pengetahuan tentang ekonomi dan keuangan syariah antara lain.

Jasa Rilidigital