berita  

Panglima TNI akui kegagalan dalam prosedur

Panglima TNI akui kegagalan dalam prosedur
Panglima TNI akui kegagalan dalam prosedur

RILIDIGITAL.COM – Kematian seorang prajurit TNI dalam Operasi Tinombala di Poso, Sulawesi Tengah, merupakan akibat dari kegagalan prosedur dan murni kecelakaan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengatakan pada hari Kamis.

Prajurit tersebut, Sersan Dua Muhammad Ilman, adalah anggota Satuan Tugas Intelijen Sandi Yudha yang menerima informasi mengenai persediaan senjata yang terkubur di bawah tanah yang di duga milik kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT).

Ketika dia dan enam prajurit lainnya sedang menggali untuk menemukan senjata tersebut, Satgas Bravo Polri menerima informasi tentang orang-orang tak di kenal di daerah tersebut.

Panglima TNI akui kegagalan dalam prosedur

Seorang anggota Satgas Bravo salah mengira bahwa Ilman adalah anggota MIT dan menembaknya, kata Gatot.

“Saya ingin menegaskan bahwa tidak ada baku tembak, karena tim intelijen mengetahui bahwa anggota satgas Bravo adalah rekan mereka,” katanya kepada para wartawan pada hari Kamis,

menekankan bahwa itu adalah penembakan yang tidak di sengaja sekaligus membantah laporan bahwa ada baku tembak.

Ia juga menyerukan agar para anggota TNI tidak terprovokasi oleh kematian yang tidak di sengaja tersebut,

karena Satgas Bravo dan Sandi Yudha sedang melakukan yang terbaik untuk memastikan keberhasilan Operasi Tinombala.

TNI sedang menunggu hasil investigasi setelah pengerahan tim investigasi.

TNI dan Polri telah bergabung untuk memburu para militan MIT yang terkait dengan ISIS di Poso dalam sebuah operasi kontraterorisme besar-besaran yang di beri nama Operasi Tinombala,

yang melibatkan lebih dari 3.000 personil sejak bulan Januari.

Panglima TNI akui kegagalan dalam prosedur

Para personel mendekati anggota kelompok teroris yang beroperasi di hutan pegunungan Poso.

Meskipun ketegangan sering terjadi antara kedua institusi ini,

kedua pasukan baru-baru ini menunjukkan kemampuan mereka untuk bekerja sama dengan memburu dan membunuh pemimpin MIT Santoso alias Abu Wardah.

Kematiannya di yakini akan menurunkan semangat dan melemahkan sisa-sisa militan MIT yang masih bersembunyi di daerah pegunungan Poso.

Jasa Rilidigital