berita  

Mendampingi keluarga mencegah stunting pada anak

Tingginya angka anemia dan malnutrisi pada wanita muda sebelum menikah menempatkan mereka pada risiko melahirkan anak stunting. Oleh karena itu, sasaran pencegahan stunting kini juga mencakup remaja dan calon pengantin atau pasangan usia subur.

 

RiliDigital.com , Jakarta– Program percepatan penurunan stunting di Indonesia turut meningkatkan kesadaran bahwa penanganan stunting tidak hanya menyasar anak-anak tetapi juga keluarga.

Presiden Joko Widodo (Jokowi), pada 5 Agustus 2021, menandatangani Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting.

Peraturan tersebut menetapkan target yang perlu dicapai oleh pihak-pihak terkait untuk mempercepat penurunan stunting.

Selama ini penanganan stunting difokuskan pada anak, dengan stunting digambarkan sebagai kegagalan tumbuh kembang pada anak akibat kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama.

Stunting juga dapat disebabkan oleh infeksi berulang dan stimulasi psikososial yang tidak memadai, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan anak. Berbeda dengan anak yang secara genetik pendek, anak stunting justru pendek karena tidak bisa tumbuh optimal.

Stunting bahkan dapat menurunkan kecerdasan anak dan membuat mereka rentan terhadap penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas di masa dewasa.

Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada 2021 mencatat prevalensi stunting Indonesia sebesar 24,4 persen.
Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Hasto Wardoyo, stunting merupakan ancaman bagi pembangunan nasional karena dapat membuat kualitas SDM menjadi buruk.

Menyadari bahwa penanganan tidak dapat dimulai setelah anak lahir, sasaran pencegahan stunting saat ini meliputi remaja, calon pengantin atau calon pasangan usia subur, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak usia 0–59 bulan.

Jasa Rilidigital