berita  

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Peringatkan Lawan

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Peringatkan Lawan
Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Peringatkan Lawan

Rilidigital – Setelah menjalani lebih dari sembilan tahun penjara karena tuduhan korupsi, mantan ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum mengatakan pada hari Selasa bahwa ia akan menikmati kebebasan bersama keluarga dan berhubungan kembali dengan teman lama, mengatakan kepada penyiar berita BTV bahwa agenda politik bisa menunggu.

Anas di bebaskan dari Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin Bandung setelah mendapatkan pembebasan bersyarat jelang habis masa tahanannya dan di sambut ratusan pendukung yang telah menunggu berjam-jam di pintu masuk penjara sejak pagi.

Saat keluar dari penjara, Anas mengatakan kepada lawan politiknya bahwa ia belum selesai dengan mereka.

“Kepada mereka yang berpikir bahwa saya akan mati dan membusuk di penjara … Maaf bukan itu masalahnya,” kata Anas.

“Alhamdulillah, dengan dukungan penuh dari keluarga dan teman-teman saya, saya ada dan berdiri tegak. Jadi di sinilah saya, tidak hanya hidup tetapi juga sehat dan waras.”

dalam wawancara eksklusif yang di lakukan tak lama setelah pembebasannya, Anas mengatakan ia tidak memiliki nama tertentu saat menyampaikan pesan tersebut.

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Peringatkan Lawan

“Tetapi jika seseorang merasa bahwa pesan itu di tujukan kepadanya, itu bukan urusan saya,” kata Anas kepada pembawa berita BTV Fristian Griec.

Setelah membuat sejarah dengan menjadi bagian dari kepemimpinan Komisi Pemilihan Umum (KPU)

yang menyelenggarakan pemilihan presiden langsung pertama di negara itu pada tahun 2004 sebelum

kembali sukses dengan Partai Demokrat, ia tampaknya menerima kenyataan bahwa ia tidak dapat memperoleh kembali karir politiknya. dalam waktu dekat.

Vonis pengadilan itu termasuk pencabutan hak politik Anas selama lima tahun sejak hari pembebasannya.

“Adalah niat saya untuk menghindari pembicaraan tentang politik di hari-hari pertama kebebasan saya. Saya ingin berbagi momen dengan keluarga dan teman-teman saya,” kata pria berusia 53 tahun itu.

“Saya perlu bersantai dan mengatur kumpul-kumpul karena saya berutang lebih dari sembilan tahun waktu saya kepada mereka.”

Anas bergabung dengan Partai Demokrat segera setelah mengundurkan diri dari KPU dan memenangkan kursi DPR pada tahun 2009, tahun ketika partai tersebut memenangkan pemilu.

Ia adalah salah satu pembantu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang paling di percaya saat itu karena partai yang berkuasa menunjuknya sebagai ketua kaukus Partai Demokrat di DPR.

Anas terus mencalonkan diri dan pada Juli 2010 ia terpilih sebagai ketua Partai Demokrat, yang mengharuskannya mengosongkan kursi DPR. Di usianya yang baru 40 tahun, ia adalah salah satu pemimpin partai termuda di Indonesia.

Mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Peringatkan Lawan

“Kita bisa bicara tentang politik nanti,” ia bersikeras ketika Fristian bertanya tentang kemungkinan kembali ke politik.

Ia mengatakan hari pertamanya di penjara adalah malam Ramadhan tahun 2014 dan ia di bebaskan di pertengahan bulan suci tahun ini.

“Bagi saya, ini seperti berkat dari Tuhan,” katanya.

“Dan juga putri bungsu saya baru saja di  terima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, sekolah saya dulu,” tambah Anas.

“Itu hanyalah salah satu bagian dari kisah indah bahwa ketika ayahnya di penjara karena kejahatan, berkat dari Tuhan di kirimkan melalui putri saya.”

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada ratusan pendukung yang memadati Lapas Bandung menunggu pembebasannya.

“Tanpa teman, Anas bukanlah siapa-siapa. Jadi mari kita simpan pertanyaan serius untuk nanti. Tapi Anas hari ini adalah orang yang sama seperti sebelumnya – ia tidak lain adalah anak laki-laki yang kebetulan punya banyak teman, ”katanya.

Anas di tahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Januari 2014, hampir setahun setelah di

tetapkan sebagai tersangka kasus korupsi terkait proyek pelatihan dan pendidikan olahraga di

Hambalang, Jawa Barat, dan proyek infrastruktur lainnya.

Ia divonis korupsi dan di jatuhi hukuman delapan tahun penjara pada September 2014, hanya sebulan

sebelum SBY –panggilan mantan presiden– menyelesaikan masa jabatan keduanya sebagai presiden.

Namun masa hukumannya di  tambah dua tahun lagi karena tidak mengembalikan puluhan miliar rupiah uang negara yang dirampok sesuai perintah pengadilan.

Secara total, ia telah menjalani hukuman sembilan tahun tiga bulan di balik jeruji besi tanpa

pemotongan hukuman sejak Januari 2014, kecuali pembebasan bersyarat sebelum masa hukumannya berakhir.

Masalah hukum secara efektif mengakhiri karir politiknya yang cemerlang dan secara drastis membalikkan hubungannya dengan SBY, dari sebelumnya salah satu pembantu paling tepercaya mantan presiden menjadi lawan politik.

Jasa Rilidigital