Konflik Tiada Akhir Papua

RILIDIGITAL – Sobat RILI, Konflik tiada akhir Papua. Hidup masyarakat Papua di Indonesia banyak ragamnya. Masyarakat Papua adalah masyarakat yang nyaman dengan kondisi alamnya.

Tetapi, berbeda dengan masyarakat papua yang merantau. Mereka tidak bisa dengan mudah berbaur dengan orang-orang Jawa. Dari sini, kehidupan Papua perantauan cenderung keras karena harus bekerja dengan network yang lemah. Orang Papua perantauan seringkali di manfaatkan kekuatan fisiknya untuk melakukan pekerjaan kasar di Jawa.

Pemikirannya tidak bisa dengan mudah di terima oleh masyarakat dari Indonesia Barat. Lain halnya dengan masyarakat Papua yang memiliki jalur melobi institusi atau pengusaha-pengusaha kaya.

Mereka adalah para pemegang kekuasaan di Papua yang memberikan jalan bagi pengusaha dan penguasa mengeksploitasi alam papua. Dari tangan mereka, modernisasi masuk ke tanah Papua dan pergerakan mereka sesekali di Jawa sesekali di Papua.

Pada umumnya, masyarakat Papua adalah masyarakat tradisional yang tidak berpikir secara modern. Mereka sebenarnya sangat membutuhkan alam di bandingkan pembangunannya. Karena itulah, mereka banyak yang hidup di taman-taman nasional dan cagar alam.

Pertentangan antara Modernisme dan Tradisionalisme

Permasalahan kondisi Papua mungkin bisa di gambarkan sama seperti pertentangan antara, modernisme dan tradisionalisme. Postmodernisme adalah aliran filsapat yang membawa sebuah pertanyaan penting. Apakah di zaman tradisional dahulu kondisinya lebih buruk dari jaman modern sekarang ?

Dulu kita di kejar-kejar binatang buas. Dulu kita kedinginan dan kehujanan karena tidak mempunyai rumah dan kendaraan yang nyaman yang bisa di gunakan.

Tetapi, di jaman tradisional kita tidak mengenal pandemi. Kita tidak mengenal alienasi diri. Kita tidak mengalami banyak masalah mental health dan kita tidak kehilangan keluarga.

Di jaman modern ini, penyakit semakin aneh, manusia semakin kejam dan alam semakin rusak. Apakah itu sebuah keunggulan masyarakat modern di bandingkan masyarakat tradisional ?

Dalam dunia modern, modernisme memang tampak menghabisi semua lapisan tradisional di dunia dan inilah mungkin yang di rasakan oleh masyarakat Papua asli. Mereka adalah masyarakat tradisional yang sedang menghadapi konsep modernisasi pemerintah Indonesia.

Mungkin di perkotaan, tradisionalisme tidak memiliki tempatnya. Tetapi, di Papua, tradisionalisme adalah paham yang ingin mereka lestarikan.

Selama pemerintah tidak memahami konsep tradisionalisme Papua, selama itu orang Papua selalu curiga kepada pemerintah dan apapun yang mencurigakan, kemungkinan akan menimbulkan potensi konflik berikutnya.

Jasa Rilidigital