berita  

Kementerian Kesehatan harus mencegah wabah penyakit zoonosis: MPR

Kementerian Kesehatan harus mencegah wabah penyakit zoonosis: MPR
Kementerian Kesehatan harus mencegah wabah penyakit zoonosis: MPR

Rilidigital – Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Bambang Soesatyo dalam keterangannya, Kamis, meminta Kementerian Kesehatan untuk mencegah KLB dan segera menyiapkan langkah penanganan penyakit zoonosis di tanah air.

Hal itu di sampaikan Soesatyo menanggapi laporan Kementerian Kesehatan Vietnam yang menemukan beberapa infeksi Streptococcus suis pada bulan-bulan awal tahun 2023, patogen zoonosis baru yang dapat di tularkan dari babi ke manusia.

Karena itu, dia juga mengimbau Kementerian Kesehatan RI untuk tetap waspada terhadap penularan lokal karena penyakit ini juga di temukan di Indonesia.

“Saya mendesak Kementerian Kesehatan untuk lebih waspada terhadap penyakit zoonosis ini karena beberapa pasien di nyatakan positif Streptococcus suis,” kata Ketua MPR RI tersebut.

Di Vietnam, Streptococcus suis adalah penyebab utama meningitis bakteri akut pada manusia.

Otoritas di Vietnam mengatakan bahwa sebagian besar kasus baru-baru ini melibatkan orang yang memakan produk daging babi seperti puding darah, atau mereka yang menyembelih babi.

Kementerian Kesehatan harus mencegah wabah penyakit zoonosis: MPR

Soesatyo juga meminta Kementerian Kesehatan mengedukasi masyarakat terkait upaya pencegahan penularan penyakit zoonosis.

“Penyebarluasan (informasi penyakit) secara masif sangat di perlukan, mengingat penyakit zoonosis juga dapat merugikan manusia,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali I Nyoman Gede Anom mengatakan beberapa kasus

wabah meningitis yang baru-baru ini terjadi di provinsi itu di sebabkan oleh Streptococcus Suis.

Hingga akhir April 2023, pihaknya mencatat ada 38 kasus meningitis. Para pasien dirawat di RS Sanjiwani, RS Negara, RS Prof Ngoerah, dan RS Bali Mandara.

Namun, Anom mencatat, tidak semua pasien menderita Meningitis Streptococcus Suis (MSS) yang bisa

di sebabkan oleh konsumsi daging babi yang kurang matang.

“Saat ini, kami sedang melakukan penyelidikan epidemiologis untuk mengkonfirmasi kasus serta

menilai hubungan epidemiologis kasus dan riwayat (setiap pasien) paparan faktor risiko,” tambahnya.

Manusia dapat terinfeksi S. suis ketika mereka menangani bangkai atau daging babi yang terinfeksi,

terutama dengan luka terbuka dan lecet di tangan mereka.

Infeksi pada manusia bisa parah, dengan meningitis, septikemia atau keracunan darah, endokarditis, dan ketulian sebagai kemungkinan akibat infeksi.

Jasa Rilidigital