Info, News  

Kekurangan tenaga spesialis medis melanda Indonesia

RILIDIGITAL.COM – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Indonesia telah menyetujui draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Omnibus Law Jaminan Kesehatan dan mengirimkan draf tersebut untuk difinalisasi oleh Komisi IX yang membidangi kesehatan dan ketenagakerjaan bersama dengan pihak eksekutif. RUU tersebut telah disetujui oleh delapan fraksi, kecuali Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dalam rapat paripurna DPR yang diselenggarakan pada hari Selasa, 14 Februari 2023.

Kekurangan tenaga spesialis medis melanda Indonesia. Indonesia mendapatkan sekitar 12.000 lulusan fakultas kedokteran atau sekolah kedokteran secara konsisten, namun hampir tidak ada yang memiliki persiapan medis yang maju di daerah tertentu sementara ada jumlah ahli yang tidak seimbang yang bekerja di daerah metropolitan.

Negara berpenduduk 273 juta jiwa ini memiliki sekitar 54.000 dokter spesialis ahli dan mereka bergerak dengan penuh semangat di wilayah-wilayah di seluruh Jawa dan Sumatra, atau di daerah-daerah kaya seperti Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Utara. Selain itu, saat ini hanya ada 615 tenaga ahli di Maluku dan Papua, yaitu sekitar 7 tenaga ahli per 100.000 orang di wilayah timur Indonesia.

Jejak digital juga mendokumentasikan puluhan pasien tuberkulosis (TBC) yang mengantri di Rumah Sakit Sidikalang di Sumatera Utara. Seorang dokter kandungan juga dipecat dari Rumah Sakit Sidikalang setelah kelalaiannya menangani bayi mengakibatkan kematian bayi tersebut.

Manajemen Rumah Sakit Sidikalang mengakui bahwa mereka hanya memiliki dua dokter kandungan. Rumah sakit sering menolak pasien yang mengeluh sakit THT karena tidak memiliki dokter THT.

Hal yang sama juga terjadi di Rumah Sakit Umum Karangasem di Bali. Rumah sakit ini telah berjuang dalam beberapa tahun terakhir dengan kekurangan dokter spesialis jantung, ahli radiologi, dokter umum, dan dokter spesialis penyakit dalam. Hanya satu dokter spesialis jantung yang bisa menangani 10 sampai 15 pasien, kata I Komang Wirya, Kepala Bidang Pelayanan RSUD Karangasem.

Mengatasi Kekurangan
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa Indonesia masih kekurangan sekitar 3.941 dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Tragisnya, sekitar 300 ibu hamil meninggal untuk setiap 100.000 kelahiran di Indonesia. Selain itu, kematian bayi baru lahir berusia antara 0 hingga 28 hari telah dilaporkan untuk setiap 1.000 kelahiran. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.

Sistem Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Indonesia saat ini membutuhkan waktu rata-rata 36 tahun untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis kandungan di Indonesia. Dokter spesialis tampaknya masih langka di Indonesia. Dokter spesialis kebidanan merupakan spesialis yang paling banyak kekurangan, yaitu 3.941 dokter, 3.662 dokter anak, dan 2.581 dokter spesialis penyakit dalam.

Berdasarkan jumlah fakultas saat ini dan rasio mahasiswa per fakultas, diperkirakan sekolah kedokteran Indonesia membutuhkan waktu 1,36 tahun untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis kandungan, 2,26 tahun untuk dokter spesialis anak, dan 3,23 tahun untuk dokter spesialis penyakit dalam.

Omnibus Law ini diharapkan dapat mereformasi sistem pendidikan dokter spesialis yang ada saat ini dengan menerapkan pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit. Sistem yang baru ini diharapkan dapat meningkatkan jumlah dan distribusi dokter spesialis di seluruh kabupaten/kota di Indonesia.

Penambahan kapasitas fakultas kedokteran sesuai rencana pemerintah diperkirakan dapat memangkas waktu yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis menjadi enam hingga delapan tahun. Konsep tersebut dilakukan melalui pendampingan dokter senior di rumah sakit dan sistem penggajian bagi dokter umum yang mengikuti program spesialis.

Jasa Rilidigital