Jalan Buruk: Bagaimana Kata-Kata Kasar TikTok Mengarah ke Penganiayaan di Indonesia

Jalan Buruk: Bagaimana Kata-Kata Kasar TikTok Mengarah ke Penganiayaan di Indonesia
Jalan Buruk: Bagaimana Kata-Kata Kasar TikTok Mengarah ke Penganiayaan di Indonesia

Rilidigital.com , Jakarta – Bagaimana Kata-Kata Kasar TikTok Mengarah ke Penganiayaan di Indonesia ,Bima Yudho Saputro menangis di TikTok-nya setelah mengetahui orang tuanya di intimidasi oleh pejabat pemerintah.

Semuanya berawal ketika dia mengomel di TikTok tentang jalan-jalan di provinsinya: Bandar Lampung.

Bandar Lampung adalah provinsi paling selatan di pulau Sumatera. Lokasinya agak dekat dengan wilayah ibu kota. Selama bertahun-tahun, Lampung agak low profile. Tidak ada insiden khusus yang terjadi di sana, sampai Bima angkat bicara.

Bima adalah seorang mahasiswa di Macquarie University di Australia. Awal bulan ini, ia meluncurkan kritik multi-cabang terhadap Lampung. Dia mengomel tentang pemerintah yang tidak mendengarkan rakyat, sistem pendidikan yang buruk, dan jalan yang buruk.

“Ada banyak proyek pemerintah di Lampung yang mangkrak,” kata Bimo di @awbimaxreborn TikTok-nya.

“Jalan-jalan di Lampung, seperti, 1 kilometer bagus, 1 kilometer rusak, lalu baru di tambal. Apa ini? Apakah pemerintah bermain ular tangga atau apa?”

Jalan Buruk: Bagaimana Kata-Kata Kasar TikTok Mengarah ke Penganiayaan di Indonesia

Video tersebut telah menerima lebih dari 2 juta suka di TikTok.

Dia juga menyebut wilayah itu sebagai “dajjal”, tokoh anti-kristus dalam ajaran Islam, meskipun nama itu telah di jadikan lelucon oleh beberapa netizen.

Bima berbicara dengan cara yang tampaknya marah, yang di sarankan ayahnya untuk menahan diri untuk sementara waktu. Tapi Bimo mengatakan itu hanya gaya bicaranya.

Namun, gaya bicara Bima agak mirip dengan selebriti internet viral lainnya Keanu AGL. Keanu juga sering mengomel di media sosial dengan gaya bicaranya yang “frontal”. Keanu juga menggunakan kata “dajjal” ketika marah. Tapi Keanu kebanyakan berbicara tentang gaya hidup, bukan politik.

Tidak lama setelah video itu menjadi viral, Bima membuat beberapa video terkait lainnya tentang Lampung sampai seseorang melaporkannya ke polisi karena penghinaan “dajjal”-nya. Orang tuanya juga di dekati oleh pejabat publik. Bima mengatakan orang tuanya di intimidasi untuk membuatnya diam.

“Hari ini ayah saya dipanggil Bupati Lampung Timur. Dan kemudian ada polisi dari kabupaten saya datang,” kata Bima.

Dia mengatakan bahwa polisi meminta datanya, termasuk rekening bank. Bima kemudian mempertimbangkan untuk mengajukan Visa Perlindungan di Australia. Kasusnya mendapat simpati luas oleh netizen, dan akhirnya di dengar oleh para politisi di Jakarta.

Ketika berita tentang laporan polisi sampai kepadanya, Bima awalnya ingin mengajukan Visa Perlindungan di Australia. Dia memuji negara itu sebagai “negara liberal yang lebih terbuka terhadap kritik dan tidak hanya mementingkan satu kelompok.”

Setelah video tersebut viral, para netizen pun mengunggah bukti-bukti buruknya kondisi jalan di Lampung. Gubernur Lampung Arinal Djunaidi juga menghadapi pengawasan.

Jalan Buruk: Bagaimana Kata-Kata Kasar TikTok Mengarah ke Penganiayaan di Indonesia

Bimo mendapat dukungan dari anggota DPR di Komisi III yang menangani masalah hukum.

Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, meminta Kapolri dan Polri untuk tidak melanjutkan kasus ini, dan memastikan tidak ada yang mengancam Bima dan keluarganya.

“Saya merasa kritik yang di sampaikan Bima masih dalam koridor yang tepat, sehingga tidak boleh ada intervensi hukum yang berlebihan. Ingat, rakyat mengawasi semua keputusan dari Kepolisian Republik Indonesia,” kata Sahroni.

Bagian dari Hak Asasi Manusia

Pejabat tinggi di Kementerian Hukum dan HAM juga menolak langkah hukum terhadap Bima.

“Kritik adalah bagian dari kebebasan berbicara yang tidak hanya merupakan bagian penting dalam negara demokrasi, tetapi juga elemen kunci dalam hak asasi manusia yang di jamin oleh konstitusi kita,” kata Direktur Jenderal Hak Asasi Manusia, Dhahana Putra.

Gubernur Lampung dan polisi setempat membantah tuduhan mengancam keluarga Bima.

Pada Selasa (18/4/2023), polisi memutuskan untuk membatalkan kasus Bima setelah tidak menemukan unsur pidana. Pakar hukum dari Universitas Jenderal Soedirman, Hibnu Nugroho, mengatakan polisi membuat keputusan yang tepat.

“Saya setuju sejak awal tidak ada tindak pidana,” kata Hibnu Nugroho. Namun, ia mengingatkan orang untuk memberikan kritik dalam bahasa yang tepat.

Jasa Rilidigital