Geoparks sebagai pendekatan berkelanjutan untuk mendorong pemulihan ekonomi

rilidigital.com Geoparks sebagai pendekatan berkelanjutan untuk mendorong pemulihan ekonomi, Apa yang disebut ‘wisata balas dendam’ setelah orang-orang ‘terpenjara’ lama di rumah karena pandemi COVID-19 berpotensi meningkatkan pariwisata, terutama wisata alam, dengan potensi wisatawan domestik muda mendominasi awal.

Ini tentu menjadi kabar baik bagi Indonesia, dengan empat dari geopark nasionalnya telah menerima lampu hijau untuk pengesahan sebagai UNESCO Global Geoparks (UGGp) yang baru.

Dewan UGGp, pada pertemuannya di bulan September 2022, mengusulkan tujuh geopark dari enam negara, termasuk Ijen di Jawa Timur dan Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan, untuk disahkan selama Sesi Musim Semi 2023.

Setelah itu, pada bulan Desember, diusulkan 11 geopark lainnya, termasuk dua dari Indonesia: Raja Ampat di Papua Barat dan Merangin di Jambi.

Dengan pemerintah yang sedang menggalakkan sektor pariwisata sebagai salah satu penggerak utama pemulihan ekonomi negara, geopark yang menawarkan keindahan alam, budaya, dan geoheritage diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

Indonesia telah memfokuskan pada 10 destinasi prioritas dalam pengembangan pariwisata: Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, Likupang, Wakatobi, Raja Ampat, Bangka Belitung, Bromo, dan Morotai.

Namun, perolehan devisa dari pariwisata relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya. Pada tahun 2020 tercatat sebesar US$19,2 miliar, dibandingkan dengan Thailand sebesar US$58,1 miliar, dan Vietnam sebesar US$28,5 miliar.

Pardede menuturkan, pengembangan geopark sebagai destinasi wisata yang sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dan budaya menjadi solusi dalam melakukan pembangunan berkelanjutan.

Pengembangan geopark sebagai media pelestarian alam dan budaya serta pendidikan selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs), tegasnya.

Ini telah berkontribusi pada 11 dari 17 tujuan dalam SDGs dan melibatkan kemitraan antara pemerintah dan non-pemerintah.

Geopark adalah area di mana situs dan lanskap yang memiliki signifikansi geologis dikelola dengan konsep holistik perlindungan, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.

Konsep ini berpotensi menjadi pemicu awal pemulihan ekonomi yang menyerap tenaga kerja dan memiliki multiplier effect bagi sektor lain.

Pardede mengatakan, pengembangan geopark ditujukan untuk mengubah pola pikir dalam pengelolaan sumber daya alam, dari ekstraksi menjadi konservasi, yang berfokus pada peningkatan nilai tambah.

“Semakin tinggi nilai ekonominya, semakin baik kita menjaganya. Ini berbeda dengan eksploitasi dulu. Sekarang, konservasi adalah kuncinya,” ujarnya. Target 12 UGGp

Dengan menarik semakin banyak pengunjung, ini merangsang pembangunan sosial-ekonomi lokal melalui promosi label kualitas yang dikaitkan dengan warisan alam setempat.

Ini mendorong terciptanya perusahaan lokal dan industri rumahan yang terlibat dalam geowisata dan geoproduk.

Saat ini Indonesia memiliki 19 geopark nasional, enam di antaranya berstatus internasional (UGGp): Batur, Gunungsewu, Rinjani, Ciletuh-Palabuhanratu, Kaldera Toba, dan Belitong.

Sekitar 13 lainnya merupakan geopark nasional, empat di antaranya diusulkan oleh Dewan UGGp untuk disahkan sebagai UGGp pada tahun 2023.

Dua geopark nasional Meratus di Kalimantan Selatan dan Karangbolong-Karangsambung di Jawa Tengah — telah ditetapkan sebagai calon UGGp dan sedang mempersiapkan pengajuan ke UNESCO untuk menjadi UGGp.

Indonesia ditargetkan memiliki 12 UNESCO Global Geoparks pada tahun 2024.

Targetnya adalah enam juta wisatawan berkunjung ke geosite, angka yang kecil jika dibandingkan dengan jumlah wisatawan yang berkunjung ke geopark di negara lain.

Indonesia ditargetkan memiliki 12 UNESCO Global Geoparks pada tahun 2024.

Targetnya adalah enam juta wisatawan berkunjung ke geosite, angka yang kecil jika dibandingkan dengan jumlah wisatawan yang berkunjung ke geopark di negara lain.

Ketua Pelaksana Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) Itje Chodidjah mengatakan, negara berkomitmen melestarikan geosite dan menggunakan kekayaannya untuk mempromosikan pariwisata berkelanjutan kelas dunia Indonesia.

Semua pihak harus bahu-membahu memajukan pembangunan dan melestarikan keanekaragaman budaya, hayati, dan geologi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan dan reformasi pendidikan nasional, tegasnya.

Chodidjah mengatakan, geopark akan mampu mendorong pembangunan di bidang pendidikan dan pariwisata selain menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal melalui pemanfaatan budaya dan produk lokal dengan tetap mengedepankan konservasi.

Masyarakat setempat harus ikut serta dalam pelestarian lingkungan dan menggali potensi wisata. membawa manfaat bagi kesejahteraan rakyat,” ucap Presiden Joko Widodo.

Manuhutu mengatakan, pengembangan geopark sebagai destinasi wisata berkelanjutan di Indonesia belum dilakukan secara maksimal.

Di antara kendala yang dihadapi adalah keterbatasan dana.

Namun, kata dia, pemerintah bisa menjalin kerja sama dengan media, pelaku usaha, serta kelompok pendidikan dan relawan di berbagai sektor.

Ia mencontohkan Geopark Ciletuh yang bekerja sama dengan dunia usaha untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dan pelestarian lingkungan.

Pengembangan geoproduk dapat meningkatkan permintaan produk lokal, dan lebih jauh lagi, akan meningkatkan perekonomian di wilayah tersebut. Tiga geoproduk yang paling sering ditemukan adalah makanan, kerajinan, dan mode.

Selain itu, geoproduk juga dapat digunakan untuk mempromosikan ilmu geologi dan mengajak wisatawan untuk lebih peduli terhadap perlindungan dan pelestarian bumi.

Jasa Rilidigital