Cara Halus NasDem Tolak Cawapres Anies dari Politikus, Mengarah ke Siapa?

NasDem deklarasikan Anies Baswedan sebagai calon presiden.
Partai NasDem mendorong sosok calon wakil presiden (cawapres) yang akan mendampingi Anies Baswedan di Pilpres 2024 adalah sosok di luar dari partai politik.

Padahal sebelumnya, Anies dan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) digadang-gadang akan diduetkan. Hal itu diperkuat dengan semakin intensnya komunikasi Partai NasDem dengan Partai Demokrat dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Lalu, mengarah ke siapa pernyataan NasDem soal sosok cawapres Anies?

Pengamat Politik Universitas Al-azhar Indonesia Ujang Komarudin menduga sindiran halus NasDem tersebut mengarah kepada AHY. Sebab beberapa waktu terakhir, banyak pihak mendorong agar keduanya berpasangan. Terlebih lagi setelah Anies dan AHY melakukan pertemuan.

“Bisa saja arahnya ditujukan kepada Demokrat yang katakanlah mendorong-dorong, ngebet ingin AHY yang menjadi cawapres,” kata Ujang, saat dihubungi, merdeka.com, Rabu (19/10).

Bahaya Bila Anies-AHY Bersama

Ujang mengatakan, jika AHY dipaksakan menjadi cawapres Anies Baswedan, bukan tidak mungkin kestabilan koalisi antara PKS, NasDem dan Demokrat goyang. Karena menurut dia, PKS juga memiliki jagoan tersendiri sebagai cawapresnya Anies.

“Bisa jadi seperti itu kalau itu arahkan kepada Demokrat dan AHY yang memang bisa jadi mengganggu stabilitas koalisi. Karena, PKS tidak mau, PKS juga punya jagoan sendiri untuk bisa dicawapreskan,” ucapnya.

Bukan cuma soal persetujuan PKS sebenarnya. Faktor lain yang membuat AHY sulit menduduki posisi cawapres karena elektabilitas di bawah standar.

“Elektabilitasnya belum tentu membantu, Anies itu bisa kalah, bisa repot,” ujar Ujang.

Dua faktor itulah yang menguatkan analisisnya bahwa AHY lah sosok yang disinggung NasDem.

“Saya melihat pernyataannya Ahmad Ali, saya amati, saya teliti itu mengarah kepada ke Demokrat yaitu AHY yang memang didorong-dorong oleh Demokrat, dipaksakan oleh Demokrat bisa menjadi cawapresnya Anies. Karena hanya di Anies lah AHY bisa menjadi cawapres, kalau dengan koalisi-koalisi dengan partai lain enggak bisa,” imbuhnya.

Wakil Ketua Umum NasDem, Ahmad Ali setuju dengan kriteria yang disampaikan Anies. Pertama, calon wakil presiden harus membantu pemenangan.

Kemudian cawapres itu harus bisa menjaga stabilitas koalisi antar partai politik. Maka itu, Ali mendorong calon wakil presiden bukan dari partai. Kalau kader partai dipilih tidak akan menstabilkan koalisi.

“Kemudian menstabilkan koalisi itu tidak tarik menarik ya kan, artinya dia bukan siapa-siapa gitu kan. Kalau dia salah satu kader artinya itu sudah tidak menstabilkan koalisi,” katanya ketika dihubungi, Selasa (18/10).

Dia menuturkan, koalisi memang seharusnya tidak mengedepankan kepentingan partainya sendiri. Supaya koalisi ini bisa stabil.

“Saya setuju kalau kemudian koalisi itu tidak membawa, tidak mengedepankan kepentingan partainya agar koalisi stabil,” ujar Ali.
Jasa Rilidigital