BPOM Mendesak Percepatan Pengembangan Obat Berbahan Alami

BPOM Mendesak Percepatan Pengembangan Obat Berbahan Alami
BPOM Mendesak Percepatan Pengembangan Obat Berbahan Alami

Rilidigital – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Penny K. Lukito mengimbau percepatan pengembangan obat-obatan berbahan dasar bahan alam, seperti obat tradisional terstandar, fitofarmaka, dan jamu, untuk memberikan segudang manfaat.

“Tentunya kita bersama-sama mendorong dukungan kita untuk percepatan pengembangan (obat-obatan berbahan dasar bahan alam),” kata Lukito pada acara Dukungan Penyediaan Bahan Baku Obat Alami Berkualitas Sebagai Landasan Swasembada Bahan Baku Nasional di Jakarta, Kamis.

Lukito menggarisbawahi perlunya pengembangan obat-obatan berbahan alam, karena Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dari segi keanekaragaman hayati, sehingga dapat menjadi basis swasembada pasokan bahan baku nasional.

Kepala dinas menilai dengan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara maksimal, Indonesia akan mandiri di bidang kedokteran, sehingga potensi tersebut harus terus di kembangkan.

Pemerintah telah mendukung Indonesia menjadi negara mandiri di bidang kedokteran melalui Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Baca Juga: Pemerintah Gelar Audiensi Publik RUU PNS di Semarang

Inpres yang di tandatangani Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 8 Juni 2016 itu bertujuan untuk

mencapai swasembada dan meningkatkan daya saing industri farmasi dan alat kesehatan nasional.

Lukito mengatakan, sebagai tindak lanjut dari instruksi tersebut, pihaknya telah membentuk Gugus

Tugas Percepatan Peningkatan dan Peningkatan Pemanfaatan Jamu dan Fitofarmaka pada tahun 2019.

Selain memajukan fitofarmaka, satgas ini antara lain di percaya mengintensifkan kerja sama dan

mengambil langkah nyata dalam pengembangan jamu sebagai warisan budaya Indonesia.

Kepala BPOM menyatakan hingga saat ini tercatat 15 ribu obat tradisional yang terdaftar di BPOM,

81 obat herbal telah terstandarisasi, dan 22 produk fitofarmaka sudah ada.

Selain pengembangan, kata dia, BPOM mendorong penggunaan obat berbahan alami, antara lain di

klinik kesehatan, fasilitas kesehatan, dan berbagai tempat pelayanan kesehatan, dengan dukungan Kementerian Kesehatan.

Lukito mengucapkan terima kasih karena telah di terbitkan formularium fitofarmaka yang menurutnya

merupakan bagian dari upaya percepatan yang di galakkan Satgas.

Lebih lanjut di katakannya, capaian-capaian yang telah di catatkan hendaknya menjadi momentum yang

harus di tindaklanjuti dalam setiap regulasi dan kebijakan, termasuk penyediaan anggaran untuk pengembangan obat berbahan alam.

Jasa Rilidigital