berita  

Bareskrim Tetapkan 2 Perusahan Jadi Tersangka Kasus Gagal Ginjal Akut Pada Anak

Bareskrim menemukan bahwa PT Afi Farma sengaja tidak melakukan pengujian terhadap zat aditif propylene glycol (PG) yang kemungkinan mengandung ethylene glycol (EG) dan diethylene glycol (DEG).

Bareskrim menetapkan 2 perusahaan farmasi sebagai tersangka gagal ginjal akut yang menewaskan lebih dari 150 anak. Kedua perusahaan tersebut adalah PT Afi Farma dan CV Samudera Chemical (SC).

Kepala Bagian Humas Polri, Inspektur Pol. Dedi Prasetyo menjelaskan, kedua perusahaan tersebut ditetapkan sebagai tersangka karena diduga memproduksi obat sirup dan mensuplai bahan yang terkontaminasi bahan kimia berbahaya. Bahan berbahaya ini diyakini dapat menyebabkan gagal ginjal akut pada anak-anak di Indonesia.

“Tersangka adalah perusahaan ,” kata Dedi Prasetyo, Kamis (17/11).

Menurut Dedi, PT Afi Farma sengaja tidak menguji bahan tambahan propilen glikol (PG). Propylene glycol kemudian ditemukan mengandung ethylene glycol (EG) dan diethylene glycol (DEG) di atas ambang batas.

“PT. Afi hanya menyalin data yang diberikan oleh pemasok tanpa pengujian dan kontrol kualitas untuk memastikan bahan tersebut dapat digunakan untuk produksi,” kata Dedi.

Dedi menjelaskan, berdasarkan hasil investigasi, PT Afi Farma mengaku mendapatkan bahan baku tambahan dari CV Samudera Chemical (SC). Berdasarkan hasil survei Puslabfor Polr, ditemukan 42 drum propylene glycol yang mengandung EG di site CV Samudera Chemical melebihi ambang batas.

Dalam kasus ini, penyidik ​​mengumpulkan cukup bukti untuk mengidentifikasi tersangka. Penyidik ​​menginterogasi 41 orang, 31 orang saksi dan 10 orang saksi ahli.

“Barang bukti diamankan, yakni beberapa obat produksi PT A, berbagai dokumen antara lain surat pesanan pembelian (purchase order) dan surat perintah suplai (supply order) ke PT A, hasil analisis laboratorium sampel obat yang disiapkan PT A dan 42 durm PG EG dan DEG ditemukan di CV SC ” kata Dedi.

Menurut Dedi Prasetyo, dua perusahaan dikenakan untuk pasal yang berbeda. PT Afi Farma sebagai perusahaan farmasi diduga melanggar ketentuan Pasal 196 juncto Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) juncto Pasal 201 ayat (1) dan/atau ayat (2) Undang-Undang RI No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dan Pasal 62 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (3) Undang-Undang RI No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman Sepuluh tahun penjara dan denda paling banyak 2 miliar rupiah.

Sementara untuk CV Samudera Chemical disangkakan Pasal 196 juncto Pasal 98 ayat (2) dan ayat (3) dan/atau Pasal 60 angka 4 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja Perubahan Atas Pasal 197 juncto Pasal 106 juncto Pasal 201 ayat (1) dan/atau ayat (2) Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dan Pasal 62 Jo Pasal 8 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen Jo Pasal 55 dan/atau pasal 56 KUHP dengan ancaman penjara 15 tahun dan denda maksimal 2 miliar rupiah.

Dedi mengatakan, setelah menetapkan tersangka, Mabes Polri akan terus melakukan penyelidikan, mengusut tuntas kemungkinan adanya terduga wartawan lainnya.

Penyidik ​​juga mewawancarai saksi dan ahli serta menganalisis dokumen yang ditemukan. Menurut Dedi, Bareskrim akan menyerahkan berkas perkara kepada Rektor Kehakiman jika berkas perkara sudah siap.

Jasa Rilidigital