berita  

Bapanas Dan BRIN Akan Gunakan AI Untuk Perbaiki Data Pangan Nasional

Bapanas Dan BRIN Akan Gunakan AI Untuk Perbaiki Data Pangan Nasional
Bapanas Dan BRIN Akan Gunakan AI Untuk Perbaiki Data Pangan Nasional

Rilidigital Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperkuat teknologi informasi untuk penyatuan data pangan, mulai dari varietas hingga harga komoditas.

Kepala Badan Pangan Nasional, Arief Prasetyo Adi, mengatakan penyatuan data akan memberikan

informasi yang akurat sehingga dapat merespon dengan cepat untuk mengelola permasalahan yang terjadi.

“Ini bisa menjadi dasar pembuatan kebijakan yang di butuhkan dalam rantai pasokan pangan bagi

masyarakat,” kata Arief di Bogor, Jawa Barat, di lansir Media Indonesia, Rabu, 5 Juli 2023.

Di era penuh tantangan seperti sekarang ini, menurutnya ketersediaan pangan bukan lagi sekedar

program penyelesaian teknis. Kementerian/Lembaga lain di luar Kementerian Pertanian dan

Kementerian Perdagangan juga memiliki tanggung jawab untuk ikut menjaga pasokan sesuai dengan kemampuannya masing-masing.

Baca juga: Watchdog Menyerukan Kampanye Pemilihan Ramah Penyandang Cacat

“Oleh karena itu kami bekerja sama dengan BRIN. Kerjasama ini meliputi pengembangan artificial

intelligence (AI), dan kerjasama terkait teknologi informasi spesifik lainnya,” imbuhnya.

Sementara itu, sejumlah program yang sedang berjalan adalah penyusunan standar mutu beras dan

vanili, kajian posisi Indonesia dalam forum Codex Internasional, pemberian rekomendasi teknis

penerbitan Surat Keterangan Permohonan Penanganan Yang Baik (SPPB PSAT), hingga pengembangan PSAT. AI untuk meramalkan harga makanan.

Ke depannya, Arief berharap kerjasama ini dapat berjalan dengan baik dengan tindak lanjut rapat

koordinasi dengan urusan pangan kabupaten/kota se-Indonesia.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Laksamana Tri Handoko

menyatakan, pihaknya siap mendukung Bapanas, terutama dalam membuat kebijakan yang lebih

berbasis ilmiah karena kebijakan pangan yang tidak berbasis data dan angka bisa menjadi masalah.

Data yang tidak akurat dapat menimbulkan masalah dan dampaknya menimbulkan inflasi, yang

kemudian berdampak tidak hanya pada petani dan konsumen, tetapi juga seluruh bisnis dunia pada umumnya.

“Indonesia membutuhkan data yang akurat. Semua lokasi penting untuk memastikan tidak hanya

produksi, tetapi juga rantai pasok. Oleh karena itu, kami siap mendukung Pak Arief dan kawan-kawan di Bapanas,” kata Tri.

Jasa Rilidigital