berita  

Anggota Keluarga WNI Melaporkan Kepada Polisi Terhadap Perdagangan Manusia ke Myanmar

Anggota Keluarga WNI Melaporkan Kepada Polisi Terhadap Perdagangan Manusia ke Myanmar
Anggota Keluarga WNI Melaporkan Kepada Polisi Terhadap Perdagangan Manusia ke Myanmar

Rilidigital – Jakarta, Anggota keluarga WNI yang di perdagangkan ke Myanmar pada hari Selasa mengajukan laporan polisi terhadap dua perekrut palsu untuk perdagangan manusia.

Menurut Serikat Pekerja Migran Indonesia (SBMI), para penipu yang di kenal dengan inisial “P” dan “A” ini merupakan warga negara Indonesia yang berdomisili di Bekasi, Jawa Barat. Serikat tersebut menuduh jaringan itu telah memperdagangkan 20 pencari kerja Indonesia ke Myawaddy yang di landa konflik di Negara Bagian Kayin Myanmar.

“P” dan “A” telah memanfaatkan pandemi Covid-19, di mana orang-orang mati-matian mencari pekerjaan. Negara-negara juga telah membuka kembali perbatasan mereka saat pandemi mereda, dan ini menyebabkan banyak tawaran pekerjaan untuk bekerja di luar negeri.

Anggota Keluarga WNI Melaporkan Kepada Polisi Terhadap Perdagangan Manusia ke Myanmar

Para korban di tipu oleh tawaran pekerjaan bergaji tinggi di Thailand. Setelah tiba di Bangkok, para pencari kerja yang tidak curiga di bawa “melalui cara non-prosedural” ke Myanmar untuk bekerja sebagai penipu dunia maya.

“Tapi kalau di lihat dari proses dan karakteristik penempatannya, ini pasti kerjaan sindikat internasional, baik itu lembaga atau lembaga lain. Ini kan polisi yang mengusut,” kata Ketua SBMI Hariyanto Suwarno kepada wartawan di gedung Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Jakarta.

SBMI mengungkapkan bahwa para korban akan di hukum jika mereka mencoba mencari sumber informasi eksternal atau mengancam akan melaporkan kejahatan tersebut. Berdasarkan gambar yang di terima SBMI sejauh ini, hukuman berkisar dari push-up seratus hingga setrum listrik.

Anggota Keluarga WNI Melaporkan Kepada Polisi Terhadap Perdagangan Manusia ke Myanmar

Pelaku bahkan memukuli korban dengan meja,” katanya.

Serikat pekerja juga berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk memulangkan para korban ke Indonesia. Hariyanto mengatakan, “Myanmar sedang berkonflik hari ini. UU Hubungan Internasional tahun 1999 menyatakan bahwa [jika terjadi bahaya] perwakilan Indonesia wajib memulangkan WNI atas biaya negara.”

SBMI menduga mungkin ada ratusan WNI yang menjadi korban skema serupa dan kini masih tertahan di Myanmar.

Seorang anggota keluarga mengatakan seminggu telah berlalu sejak terakhir kali mereka menghubungi para korban.

“Jadi kemungkinan [para korban] di sekap dan sekarang di siksa. Bahkan perusahaan telah memberi tahu mereka di Myawaddy bahwa ‘tidak ada yang akan menjemput mereka. Bahkan Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo sendiri.’ […] Dan sampai hari ini, [para korban] masih belum bisa kami hubungi,” kata anggota keluarga tersebut kepada pers sesaat sebelum menyampaikan laporan.

Jasa Rilidigital